Memilih antara menuruti keinginan suami atau tunduk kepada perintah orangtua merupakan dilema yang banyak dialami kaum wanita yang telah menikah. Bagaimana Islam mendudukkan perkara ini?
Seorang wanita apabila telah menikah maka suaminya lebih berhak terhadap dirinya daripada kedua orangtuanya. Sehingga ia lebih wajib menaati suaminya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللهُ
“Maka wanita yang shalihah adalah wanita yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada (bepergian) dikarenakan Allah telah memelihara mereka…” (An-Nisa’: 34)
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam haditsnya:
الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِهَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، إِذَا نَظَرْتَ إِلَيْهَا سَرَّتْكَ، وَإِذَا أَمَرْتَهَا أَطَاعَتْكَ، وَإِذَا غِبْتَ عَنْهَا حَفِظَتْكَ فِي نَفْسِهَا وَمَالِكَ
“Dunia ini adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasannya adalah wanita yang shalihah. Bila engkau memandangnya, ia menggembirakan (menyenangkan)mu. Bila engkau perintah, ia menaatimu. Dan bila engkau bepergian meninggalkannya, ia menjaga dirinya (untukmu) dan menjaga hartamu1.”
Dalam Shahih Ibnu Abi Hatim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا صَلَتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَصَنَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ بَعْلَهَا، دَخَلَتْ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شَاءَتْ
“Apabila seorang wanita mengerjakan shalat lima waktunya, mengerjakan puasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan menaati suaminya, maka ia akan masuk surga dari pintu mana saja yang ia inginkan2.”
Dalam Sunan At-Tirmidzi dari Ummu Salamah x, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَيُّمَا امْرَأَةٍ مَاتَتْ وَزَوْجُهَا رَاضٍ عَنْهَا دَخَلَتِ الْجَنَّةَ
“Wanita (istri) mana saja yang meninggal dalam keadaan suaminya ridha kepadanya niscaya ia akan masuk surga.”
At-Tirmidzi berkata, “Hadits ini hasan3.”
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:
لَوْ كُنْتُ آمِرًا لِأَحَدٍ أَنْ يَسْجُدَ لِأَحَدٍ لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا
“Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain niscaya aku akan memerintahkan istri untuk sujud kepada suaminya.”
Hadits ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan ia berkata, “Hadits ini hasan4.” Diriwayatkan pula oleh Abu Dawud dan lafadznya:
لَأَمَرْتُ النِّسَاءَ أَنْ يَسْجُدْنَ لِأَزْوَاجِهِنَّ، لِمَا جَعَلَ اللهُ عَلَيْهِنَّ مِنَ الْحُقُوْقِ
“…niscaya aku perintahkan para istri untuk sujud kepada suami mereka dikarenakan kewajiban-kewajiban sebagai istri yang Allah bebankan atas mereka.”5
Dalam Al-Musnad dari Anas radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لاَ يَصْلُحُ لِبَشَرٍ أَنْ يَسْجُدَ لِبَشَرٍ، وَلَوْ صَلَحَ لِبَشَرٍ أَنْ يَسْجُدَ لِبَشَرٍ لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا مِنْ عِظَمِ حَقِّهِ عَلَيْهَا، وَاَّلذِي نَفْسِيْ بِيَدِهِ لَوْ كَانَ مِنْ قَدَمِهِ إِلَى مَفْرَقِ رَأْسِهِ قَرْحَةً تَجْرِي بِالْقَيْحِ وَالصَّدِيْدِ، ثُمَّ اسْتَقْبَلَتْهُ فَلحسَتْهُ مَا أَدّّتْ حَقَّهُ
“Tidaklah pantas bagi seorang manusia untuk sujud kepada manusia yang lain. Seandainya pantas/boleh bagi seseorang untuk sujud kepada seorang yang lain niscaya aku perintahkan istri untuk sujud kepada suaminya dikarenakan besarnya hak suaminya terhadapnya. Demi Zat yang jiwaku berada di tangannya, seandainya pada telapak kaki sampai belahan rambut suaminya ada luka/borok yang mengucurkan nanah bercampur darah, kemudian si istri menghadap suaminya lalu menjilati luka/borok tersebut niscaya ia belum purna menunaikan hak suaminya.”6
Dalam Al-Musnad dan Sunan Ibni Majah, dari Aisyah x dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:
لَوْ أَمَرْتُ أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِأَحَدٍ لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا، وَلَوْ أَنَّ رَجُلاً أَمَرَ امْرَأَتَهُ أَنْ تَنْقُلَ مِنْ جَبَلٍ أَحْمَرَ إِلَى جَبَلٍ أَسْوَدَ، وَمِنْ جَبَلٍ أَسْوَدَ إِلَى جَبَلٍ أَحْمَرَ لَكاَنَ لَهَا أَنْ تَفْعَلَ
“Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada seorang yang lain niscaya aku akan memerintahkan istri untuk sujud kepada suaminya. Seandainya seorang suami memerintahkan istrinya untuk pindah dari gunung merah menuju gunung hitam dan dari gunung hitam menuju gunung merah maka si istri harus melakukannya.”7
Demikian pula dalam Al-Musnad, Sunan Ibni Majah, dan Shahih Ibni Hibban dari Abdullah ibnu Abi Aufa radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
لمَاَّ قَدِمَ مُعَاذٌ مِنَ الشَّام ِسَجَدَ لِلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ: مَا هذَا يَا مُعَاذُ؟ قَالَ: أَتَيْتُ الشَّامَ فَوَجَدْتُهُمْ يَسْجُدُوْنَ لِأَسَاقِفَتِهِمْ وَبَطَارِقَتِهِمْ، فَوَدِدْتُ فِي نَفْسِي أَنْ تَفْعَلَ ذَلِكَ بِكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ .فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: لاَ تَفْعَلُوا ذَلِكَ، فَإِنِّي لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِغَيْرِ اللهِ لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا، وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَ تُؤَدِّي الْمَرْأَةُ حَقَّ رَبِّهَا حَتَّى تُؤَدِّيَ حَقَّ زَوْجِهَا، وَلَوْ سَأََلَهَا نَفْسَهَا وَهِيَ عَلَى قَتَبٍ لَمْ تَمْنَعْهُ
Tatkala Mu’adz datang dari bepergiannya ke negeri Syam, ia sujud kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau menegur Mu’adz, “Apa yang kau lakukan ini, wahai Mu’adz?”
Mu’adz menjawab, “Aku mendatangi Syam, aku dapati mereka (penduduknya) sujud kepada uskup mereka. Maka aku berkeinginan dalam hatiku untuk melakukannya kepadamu, wahai Rasulullah.”
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan engkau lakukan hal itu, karena sungguh andai aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada selain Allah niscaya aku perintahkan istri untuk sujud kepada suaminya. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, seorang istri tidaklah menunaikan hak Rabbnya sampai ia menunaikan hak suaminya. Seandainya suaminya meminta dirinya dalam keadaan ia berada di atas pelana (hewan tunggangan) maka ia tidak boleh menolaknya8.”
Dari Thalaq bin Ali, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَيُّمَا رَجُلٍ دَعَا زَوْجَتَهُ لِحَاجَتِهِ فَلْتَأْتِهِ وَلَوْ كَانَتْ عَلَى التَّنُّوْرِ
“Suami mana saja yang memanggil istrinya untuk memenuhi hajatnya9 maka si istri harus/wajib mendatanginya (memenuhi panggilannya) walaupun ia sedang memanggang roti di atas tungku api.”
Diriwayatkan oleh Abu Hatim dalam Shahih-nya dan At-Tirmidzi, ia berkata, “Hadits ini hasan10.”
Dalam kitab Shahih (Al-Bukhari) dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا دَعَا الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ فَأَبَتْ أَنْ تَجِيْئَ، فَبَاتَ غَضْبَانَ عَلَيْهَا، لَعَنَتْهَا الْمَلاَئِكَةُ حَتَّى تُصْبِحَ
“Apabila seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidurnya, namun si istri menolak untuk datang, lalu si suami bermalam (tidur) dalam keadaan marah kepada istrinya tersebut, niscaya para malaikat melaknat si istri sampai ia berada di pagi hari.”11
Hadits-hadits dalam masalah ini banyak sekali dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu berkata, “Suami adalah tuan (bagi istrinya) sebagaimana tersebut dalam Kitabullah.” Lalu ia membaca firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَأَلْفَيَا سَيِّدَهَا لَدَى الْبَابِ
“Dan keduanya mendapati sayyid (suami) si wanita di depan pintu.” (Yusuf: 25)
Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata, “Nikah itu adalah perbudakan. Maka hendaklah salah seorang dari kalian melihat/memerhatikan kepada siapa ia memperbudakkan anak perempuannya.”
Dalam riwayat At-Tirmidzi dan selainnya dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:
اسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا، فَإِنَّمَا هُنَّ عِنْدَكُمْ عَوَانٌ
“Berwasiat kebaikanlah kalian kepada para wanita/istri karena mereka itu hanyalah tawanan di sisi kalian.”12
Dengan demikian seorang istri di sisi suaminya diserupakan dengan budak dan tawanan. Ia tidak boleh keluar dari rumah suaminya kecuali dengan izin suaminya baik ayahnya yang memerintahkannya untuk keluar, ataukah ibunya, atau selain kedua orangtuanya, menurut kesepakatan para imam.
Apabila seorang suami ingin membawa istrinya pindah ke tempat lain di mana sang suami menunaikan apa yang wajib baginya dan menjaga batasan/hukum-hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam perkara istrinya, sementara ayah si istri melarang si istri tersebut untuk menuruti/menaati suami pindah ke tempat lain, maka si istri wajib menaati suaminya, bukannya menuruti kedua orangtuanya. Karena kedua orangtuanya telah berbuat zalim. Tidak sepantasnya keduanya melarang si wanita untuk menaati suaminya. Tidak boleh pula bagi si wanita menaati ibunya bila si ibu memerintahnya untuk minta khulu' kepada suaminya atau membuat suaminya bosan/jemu hingga suaminya menceraikannya. Misalnya dengan menuntut suaminya agar memberi nafkah dan pakaian (melebihi kemampuan suami) dan meminta mahar yang berlebihan13, dengan tujuan agar si suami menceraikannya. Tidak boleh bagi si wanita untuk menaati salah satu dari kedua orangtuanya agar meminta cerai kepada suaminya, bila ternyata suaminya seorang yang bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam urusan istrinya. Dalam kitab Sunan yang empat14 dan Shahih Ibnu Abi Hatim dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَيُّمَا امْرَأَةٍ سَأَلَتْ زَوْجَهَا الطَّلاَقَ مِنْ غَيْرِ مَا بَأْس َفَحَرَامٌ عَلَيْهَا رَائِحَةُ الْجَنَّةِ
“Wanita mana yang meminta cerai kepada suaminya tanpa ada apa-apa15 maka haram baginya mencium wanginya surga.”16
Dalam hadits yang lain:
الْمُخْتَلِعَاتُ وَالْمُنْتَزِعَاتُ هُنَّ الْمُنَافِقَاتُ
“Istri-istri yang minta khulu’17 dan mencabut diri (dari pernikahan) mereka itu wanita-wanita munafik.”18
Adapun bila kedua orangtuanya atau salah satu dari keduanya memerintahkannya dalam perkara yang merupakan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, misalnya ia diperintah untuk menjaga shalatnya, jujur dalam berucap, menunaikan amanah dan melarangnya dari membuang-buang harta dan bersikap boros serta yang semisalnya dari perkara yang Allah l dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam perintahkan atau yang dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk dikerjakan, maka wajib baginya untuk menaati keduanya dalam perkara tersebut. Seandainya pun yang menyuruh dia untuk melakukan ketaatan itu bukan kedua orangtuanya maka ia harus taat. Apalagi bila perintah tersebut dari kedua orangtuanya.
Apabila suaminya melarangnya dari mengerjakan apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan atau sebaliknya menyuruh dia mengerjakan perbuatan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala larang maka tidak ada kewajiban baginya untuk taat kepada suaminya dalam perkara tersebut. Karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّهُ لاَ طَاعَةَ لِمَخْلُوْقٍ فِي مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ
“Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Khaliq.”19
Bahkan seorang tuan (ataupun raja) andai memerintahkan budaknya (ataupun rakyatnya/orang yang dipimpinnya) dalam perkara maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak boleh bagi budak tersebut menaati tuannya dalam perkara maksiat. Lalu bagaimana mungkin dibolehkan bagi seorang istri menaati suaminya atau salah satu dari kedua orangtuanya dalam perkara maksiat? Karena kebaikan itu seluruhnya dalam menaati Allah l dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebaliknya kejelekan itu seluruhnya dalam bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya.” (Majmu’atul Fatawa, 16/381-383). Wallahu a’lam bish-shawab.
Tampilkan postingan dengan label nasehat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label nasehat. Tampilkan semua postingan
6 Nov 2011
9 Apr 2011
Allah tidak pernah memberikan siksa kepada umatnya
Ketika cobaan atau musibah menghampiri kita, seolah diterjang badai kehidupan.
Banyak yang menyangka bahwa cobaan atau musibah itu adalah adzab dari Allah, dianggapnya sebagai murka Allah.
Padahal jika kita renungkan lebih dalam, sebenarnya selagi kita masih hidup, Allah berkenan memberikan kesempatan agar kita memperbaiki kesalahan yang kita lakukan.
Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang tidak pernah memberikan siksaan melainkan 'sentilan kecil' bagi kita hambaNya yang lalai dan lupa diri untuk kembali ke jalan yang benar.
'Sesungguhnya Allah tidak pernah memberikan siksa kepada seseorang walaupun sebesar zarrah sekalipun dan jika ada kebaikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipatgandakannya dan memberikan dari sisiNya pahala yang besar.' (QS. an-Nisaa' : 40).
18 Des 2009
Orang-orang yang Di Doakan oleh para Malaikat
Syaikh Fadhl Ilahi dalam bukunya( orang2 yg didoakan malaikat, pustaka Ibnu katsir,2005 )menuliskan ada beberapa orang yang akan didoakan oleh para malaikat :
1. Orang yang tidur dalam keadaan bersuci
Rasullulah saw bersabda," Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya dalam pakaianya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa 'Ya Allah, Ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam keadaan suci' (HR.Ibnu Hibban )
2. Orang yang sedang duduk menunggu waktu sholat
Rasullulah saw bersabda,'Tidaklah salah seorang diantara kalian yang duduk menunggu sholat, selama ia berada dalam keadaan suci, kecuali para malaikat akan mendoakannya ' Ya ALLAH Ampuni ia, Ya Allah sayangi Ia ' (HR.Muslim )
3.Orang orang yang berada di shaf barisan depan dalam sholat berjama'ah
Rasullulah saw bersabda,'Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada (orang-orang ) yang berada pada Syaf-syaf terdepan ' (HR.abu Dawud )
4. orang-orang yang menyambung syaf pada sholat berjama'ah ( tdk membiarkan kekosongan dalam sebuah syaf )
Rasullulah saw bersabda,'Sesungguhnya Allah dan para malaikat selalu bershalawat kepada orang-orang yang menyambung syaf-syaf ' (HR.Ahmad )
5.para malaikat mengucapkan 'AMIN' ketika seorang imam selesai membaca Al-Fatihah
Rasullulah saw bersabda,'Jika seorang imam membaca ' ghoiril magduubi'alaihim waladh dhaalin', maka ucapkanlah oleh kalian 'amiin', karena barang siapa ucapannya itu bertepatan dengan ucapan malaikat, maka dia akan diampuni dosanya yang masa lalu' (HR.Bukhori )
6.Orang yang duduk di tempat shalatnya setelah melakukan shalat
Rasullulah saw bersabda,'Para malaikat akan slalu bershalawat kpd salah satu di antara kalian selama ia ada di dalam tempat sholat di mana ia melakukan sholat, selama ia blm batal wudhunya ( para malaikat) berkata " Ya Allah Ampunilah dan sayangilah ia' (HR.Ahmad )
7.Orang-orang yang melakukan sholat subuh dan ashar secara berjama'ah
Rasullulah saw bersabda, 'para malaikat berkumpul pd saat sholat subuh lalu para malaikat ( yg menyertai hamba) pada malam hari ( yg sdh bertugas malam hari hingga subuh) naik (ke langit),dan malaikat pada siang hari tetap tinggal. kemudian mereka berkumpul lagi pada waktu sholat ashar dan malaikat yg ditugaskan pd sianghari ( hingga ashar) naik ( kelangit) sedangkan malaikat yg bertugas pd malam hari tetap tinggal, lalu Allah bertanya kepada mereka 'Bagaimana kalian meninggalkan hambaku? 'Mereka menjawab : kami datang sedangkan mereka sedang melakukan shalat dan kami tinggalkan mereka sedangkan mereka sedang melakukan shalat, maka ampuni mereka pada hari kiamat' (HR.Ahmad )
8.Orang yang medoakan saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan
Rasullulah saw bersabda,'Doa seorang muslim utk saudaranya yg dilakukan tanpa sepengetahuan orang yg didoakannya adalah doa yg akan dikabulkan. Pada kepalanya ada seorang malaikatyg menjadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa utk saudaranya dgn sebuah kebaikan, maka malikat tsb berkata amiin dan engkaupun mendapatkan apa yg ia dapatkan' (HR.Muslim )
9.Orang-orang yg berinfak
Rasullulah saw bersabda,'Tidak ada satu hari pun dimana pagi harinya seorang hamba ada padanya kecuali 2 malaikat turun padanya,salah satu diantaranya berkata 'Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak," dan yang lainnya berkata " Ya Allah, hancurkanlah harta bagi orng yang pelit' (HR.Bukhari)
10. Orang-orang yang sedang makan sahur
Rasullulah saw bersabda,'sesungguhnya Allah daan para malaikat-Nya bershalawat kpd orang-orang yg sedang makan sahur' (HR.Ibnu Hibban)
11.Orang yang sedang menjenguk orang sakit
Rasullulah saw bersabda,'Tidaklah seorang mukmin menjenguk saudaranya kecuali Allah akan mengutus 70.000 malaikat untuknya yg akan bershalawat kpdnya di waktu siang kapan saja hingga sore dan di waktu malam kapan saja hingga subuh' (HR.Ahmad)
12.Seorang yg sedang mengajarkan kebaikan
Rasullulah saw bersabda,'Keutamaan seorang alim atas seorang ahli ibadah bagaikan keutamaanku atas seorang yg paling rendah di antara kalian. Sesungguhnya penghuni langit dan bumi, bahkan semut yg didalam lubangnya dan bahkan ikan, semuanya bershalawat kpd orang yg mengajarkan kebaikan kpd orang lain' (HR.Tarmidzi)
Semoga kita bisa menjadi salah satu umat yg selalu didoakan malaikat...amiiin...
sumber : Terapi sholat tahajud bg penyembuhan kanker
( Prof. Dr. Moh. Sholeh )
1. Orang yang tidur dalam keadaan bersuci
Rasullulah saw bersabda," Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya dalam pakaianya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa 'Ya Allah, Ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam keadaan suci' (HR.Ibnu Hibban )
2. Orang yang sedang duduk menunggu waktu sholat
Rasullulah saw bersabda,'Tidaklah salah seorang diantara kalian yang duduk menunggu sholat, selama ia berada dalam keadaan suci, kecuali para malaikat akan mendoakannya ' Ya ALLAH Ampuni ia, Ya Allah sayangi Ia ' (HR.Muslim )
3.Orang orang yang berada di shaf barisan depan dalam sholat berjama'ah
Rasullulah saw bersabda,'Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada (orang-orang ) yang berada pada Syaf-syaf terdepan ' (HR.abu Dawud )
4. orang-orang yang menyambung syaf pada sholat berjama'ah ( tdk membiarkan kekosongan dalam sebuah syaf )
Rasullulah saw bersabda,'Sesungguhnya Allah dan para malaikat selalu bershalawat kepada orang-orang yang menyambung syaf-syaf ' (HR.Ahmad )
5.para malaikat mengucapkan 'AMIN' ketika seorang imam selesai membaca Al-Fatihah
Rasullulah saw bersabda,'Jika seorang imam membaca ' ghoiril magduubi'alaihim waladh dhaalin', maka ucapkanlah oleh kalian 'amiin', karena barang siapa ucapannya itu bertepatan dengan ucapan malaikat, maka dia akan diampuni dosanya yang masa lalu' (HR.Bukhori )
6.Orang yang duduk di tempat shalatnya setelah melakukan shalat
Rasullulah saw bersabda,'Para malaikat akan slalu bershalawat kpd salah satu di antara kalian selama ia ada di dalam tempat sholat di mana ia melakukan sholat, selama ia blm batal wudhunya ( para malaikat) berkata " Ya Allah Ampunilah dan sayangilah ia' (HR.Ahmad )
7.Orang-orang yang melakukan sholat subuh dan ashar secara berjama'ah
Rasullulah saw bersabda, 'para malaikat berkumpul pd saat sholat subuh lalu para malaikat ( yg menyertai hamba) pada malam hari ( yg sdh bertugas malam hari hingga subuh) naik (ke langit),dan malaikat pada siang hari tetap tinggal. kemudian mereka berkumpul lagi pada waktu sholat ashar dan malaikat yg ditugaskan pd sianghari ( hingga ashar) naik ( kelangit) sedangkan malaikat yg bertugas pd malam hari tetap tinggal, lalu Allah bertanya kepada mereka 'Bagaimana kalian meninggalkan hambaku? 'Mereka menjawab : kami datang sedangkan mereka sedang melakukan shalat dan kami tinggalkan mereka sedangkan mereka sedang melakukan shalat, maka ampuni mereka pada hari kiamat' (HR.Ahmad )
8.Orang yang medoakan saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan
Rasullulah saw bersabda,'Doa seorang muslim utk saudaranya yg dilakukan tanpa sepengetahuan orang yg didoakannya adalah doa yg akan dikabulkan. Pada kepalanya ada seorang malaikatyg menjadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa utk saudaranya dgn sebuah kebaikan, maka malikat tsb berkata amiin dan engkaupun mendapatkan apa yg ia dapatkan' (HR.Muslim )
9.Orang-orang yg berinfak
Rasullulah saw bersabda,'Tidak ada satu hari pun dimana pagi harinya seorang hamba ada padanya kecuali 2 malaikat turun padanya,salah satu diantaranya berkata 'Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak," dan yang lainnya berkata " Ya Allah, hancurkanlah harta bagi orng yang pelit' (HR.Bukhari)
10. Orang-orang yang sedang makan sahur
Rasullulah saw bersabda,'sesungguhnya Allah daan para malaikat-Nya bershalawat kpd orang-orang yg sedang makan sahur' (HR.Ibnu Hibban)
11.Orang yang sedang menjenguk orang sakit
Rasullulah saw bersabda,'Tidaklah seorang mukmin menjenguk saudaranya kecuali Allah akan mengutus 70.000 malaikat untuknya yg akan bershalawat kpdnya di waktu siang kapan saja hingga sore dan di waktu malam kapan saja hingga subuh' (HR.Ahmad)
12.Seorang yg sedang mengajarkan kebaikan
Rasullulah saw bersabda,'Keutamaan seorang alim atas seorang ahli ibadah bagaikan keutamaanku atas seorang yg paling rendah di antara kalian. Sesungguhnya penghuni langit dan bumi, bahkan semut yg didalam lubangnya dan bahkan ikan, semuanya bershalawat kpd orang yg mengajarkan kebaikan kpd orang lain' (HR.Tarmidzi)
Semoga kita bisa menjadi salah satu umat yg selalu didoakan malaikat...amiiin...
sumber : Terapi sholat tahajud bg penyembuhan kanker
( Prof. Dr. Moh. Sholeh )
16 Des 2009
Faktor Tidak Terkabulnya Doa
Dikisahkan bahwa suatu hari, Ibrahim bin Adham melintas di pasar basrah, lalu orang-orang berkumpul mengerumuninya seraya berkata " wahai Abu Ishaq( Abu Ishaq adalah nama panggilan untuk ibrahim bin adhan), apa sebab kami selalu berdoa, namun tidak pernah dikabulkan?
iya menjawab,
" Karena Hati kalian telah mati karena 10 Hal" Yaitu :
1. Kalian mengenal ALLAH, tetapi tidak menunaikan hak Nya.
2. Kalian mengaku cinta Rosullullah saw tetapi meninggalkan sunnahnya
3. Kalian membaca Al-Qur'an tetapi tidak mengamalkannya
4. Kalian memakan nikmat-nikmat Allah SWT, tetapi tidak pandai mensyukurinya
5. Kalian mengatakan bahwa setan adalah musuh tetapi tidak pernah berani menentangnya,
6. Kalian katakan bahwa surga adalah haq ( benar adanya) tetapi tidak pernah beramal untuk menggapainya
7. Kalian katakan bahwa neraka adalah haq ( benar adanya) tetapi tidak mau lari darinya
8. Kalian katakan bahwa kematian adalah haq ( benar adanya) tetapi tidak pernah memepersiapkan diri untuknya
9. Kalian bangun dari tidur lantas dibuk memperbincangkan aib orang lain, tetapi lupa dengan aib sendiri
10.Kalian kubur orang-orang yang meninggal dunia di kalangan kalian, tetapi tidak pernah mengambil pelajaran dari mereka
smoga kita tidak termasuk kedalam 10 golongan tersebut,,,,amin ...
sumber: terapi sholat tahajud bg penyembuhan kanker
( Prof. Dr. Moh Sholeh )
iya menjawab,
" Karena Hati kalian telah mati karena 10 Hal" Yaitu :
1. Kalian mengenal ALLAH, tetapi tidak menunaikan hak Nya.
2. Kalian mengaku cinta Rosullullah saw tetapi meninggalkan sunnahnya
3. Kalian membaca Al-Qur'an tetapi tidak mengamalkannya
4. Kalian memakan nikmat-nikmat Allah SWT, tetapi tidak pandai mensyukurinya
5. Kalian mengatakan bahwa setan adalah musuh tetapi tidak pernah berani menentangnya,
6. Kalian katakan bahwa surga adalah haq ( benar adanya) tetapi tidak pernah beramal untuk menggapainya
7. Kalian katakan bahwa neraka adalah haq ( benar adanya) tetapi tidak mau lari darinya
8. Kalian katakan bahwa kematian adalah haq ( benar adanya) tetapi tidak pernah memepersiapkan diri untuknya
9. Kalian bangun dari tidur lantas dibuk memperbincangkan aib orang lain, tetapi lupa dengan aib sendiri
10.Kalian kubur orang-orang yang meninggal dunia di kalangan kalian, tetapi tidak pernah mengambil pelajaran dari mereka
smoga kita tidak termasuk kedalam 10 golongan tersebut,,,,amin ...
sumber: terapi sholat tahajud bg penyembuhan kanker
( Prof. Dr. Moh Sholeh )
Langganan:
Postingan (Atom)