Istilah mioma uteri mungkin tidak akrab di telinga kita. Namun, jika kata tumor disebut, dapat mencetuskan kekhawatiran bahwa seseorang telah terkena kanker. Seberapa bahayanya? Haruskah dioperasi?
Mioma uteri adalah tumor jinak pada daerah rahim dan jaringan ikat di sekitarnya. Diameternya bisa hanya beberapa centimeter sampai 20 centimeter dengan berat 5 kilogram. Beberapa kepustakaan menyebut mioma uteri dengan istilah leiomioma, fibromioma, atau fibroid, yang artinya tumor jinak. Karena sifatnya jinak, mioma uteri ini sangat jarang berkembang menjadi kanker, sehingga hampir tidak butuh penanganan khusus.
"Sekitar 30 persen wanita usia produktif memiliki benjolan kecil di rahimnya. Benjolan ini sering tidak disadari karena tak mengganggu atau menimbulkan keluhan," kata Dr. Andon Hestiantoro Sp.OG, spesialis Obstetri & Ginekologi dari FKUI/RSCM.
Keluhan baru terjadi jika benjolan ini tumbuh ke depan atau di belakang rongga rahim. Gejala yang timbul bergantung pada lokasi dan besarnya tumor.
Menurut Dr. Andon, jika benjolan tumbuh ke depan rongga rahim, biasanya penderita mengalami gangguan buang air kecil. Jika di belakang rongga rahim, penderitanya akan merasakan sakit hebat saat menstruasi, atau jumlah dash menstruasi jadi lebih banyak dari biasanya.
"Ngabisin pembalut dan rasanya sakit sekali," tutur Ike, karyawati perusahaan konsultan di Jakarta.
Awalnya Ike membiarkan saja gejala ini karena mengira rasa sakit dan darah berlebih ketika menstruasi adalah hal biasa. Mioma diketahui ketika ia menjalani pemeriksaan rutin yang diadakan kantornya.
Estrogen meningkat
Penyebab pasti mioma uteri sampai saat ini belum diketahui. Namun, membesarnya mioma ditengarai akibat meningkatnya jumlah hormon estrogen dalam tubuh.
Beberapa ahli mengungkapkan, pada otot rahim yang memiliki mioma, ditemukan receptor estrogen lebih banyak daripada otot rahim normal. Kondisi yang dapat meningkatkan kadar estrogen misalnya menstruasi, karenanya mioma ini lebih banyak terdapat pada wanita dalam masa subur.
Karena dipengaruhi oleh hormon estrogen, pada anak-anak yang belum menstruasi, jarang ditemukan kasus mioma uteri. Pada wanita yang sudah mengalami menopause, mioma juga akan mengecil karena kadar estrogen sudah berkurang.
"Jumlah wanita berusia 20-an yang menderita mioma bisa jadi lebih besar daripada usia 40-an karena lebih banyak memiliki estrogen dalam tubuhnya," papar Dr. Andon, yang juga Kepala Klinik Kesuburan Yasmin di RSCM.
Diduga faktor keturunan juga menjadi penyebab mioma uteri. Beberapa ahli mengatakan bahwa mioma juga terkait faktor bakat, yang kemudian dipicu oleh rangsangan hormon, makanan kaya lemak, dan kelebihan berat badan.
"Obesitas dapat menurunkan kekebalan tubuh dan mengacaukan keseimbangan hormon," ucap Dr. Andon.
Rangsangan inilah yang memicu pertumbuhan mioma. Infeksi dan jamur di dalam rahim juga memungkinkan mioma tumbuh kembali, meskipun telah diangkat (operasi).
Mioma uteri biasanya terdeteksi ketika seorang wanita melakukan pemeriksaan panggul atau saat berobat ke ahli kebidanan dan kandungan dengan keluhan sulit memiliki anak. Tidak jarang, gumpalan inilah yang menjadi biang keladinya. Di samping keluhan gangguan buang air kecil dan menstruasi, mioma uteri juga dapat menyebabkan kemandulan.
Pada kehamilan, mioma uteri dapat mengganggu hingga membawa dampak berupa kelainan letak bayi dan plasenta, terhalangnya jalan lahir, kelemahan pada saat kontraksi rahim, perdarahan yang banyak setelah melahirkan, dan gangguan pelepasan plasenta, bahkan bisa menyebabkan keguguran.
Kehamilan juga bisa memiliki bisa memperparah dampak mioma uteri. Saat hamil, mioma uteri cenderung membesar hingga menyebabkan perdarahan dan nyeri.
Jika sudah dirasa mengganggu dan menurunkan kualitas hidup, mioma harus ditangani dengan serius. Terdapat beberapa pilihan terapi untuk mioma uteri. Terapi-terapi tersebut bisa dikombinasikan. Meski demikian, terapi yang ada hanya bertujuan untuk menghilangkan gejala dan keluhan sakit pada pasien.
"Perlu diketahui, sampai sekarang belum ada obat yang tuntas mengobati mioma. Bahkan, tindakan operasi pun tak menjamin mioma tidak akan kembali lagi," ungkap Dr. Andon.
Karena mioma bukanlah kanker dan biasanya berkembang dengan lambat, penderita punya banyak waktu untuk mempertimbangkan berbagai pilihan terapi. Setiap terapi mempunyai kelebihan dan kekurangan.
Yang jelas, tidak setiap kasus mioma harus dibedah. "Lagipula, tindakan operasi tidak menjamin mioma tak akan tumbuh lagi. Jadi, meski bibit mioma sudah diangkat lewat operasi, tetap ada kemungkinan tumbuh lagi. Tiga sampai empat tahun sesudah
operasi, mioma mungkin tumbuh lagi," katanya.
Bila Harus OperasiTindakan bedah dapat dipilih jika pasien benar-benar merasa terganggu akibat mioma. Ada beberapa alasan mengapa mioma harus diangkat, yaitu: 1) bila ukurannya lebih besar dari ukuran kehamilan usia 12 minggu, 2) pembesarannya sangat cepat, 3)mioma sudah mengganggu keadaan penderita, misalnya perdarahan terus-menerus dan banyak, hingga penderitanya harus transfusi.
Ada beberapa cara yang umum dilakukan dalam melakukan tindakan bedah, yaitu miomektomi dan histerektomi. Pada miomektomi, yang dibuang hanyalah jaringan mioma. Miomektomi dilakukan jika pasien masih ingin memiliki keturunan.
Miomektomi dapat dilakukan dengan beberapa cara. Yang paling sering dilakukan adalah memasukkan selang kecil ke dalam rahim untuk mengangkat mioma. Kerugiannya, tindakan ini tidak efektif untuk mengangkat massa mioma berukuran besar.
Histerektomi adalah pengangkatan seluruh rahim. Efek samping dari histerektomi adalah pasien tidak akan bisa hamil lagi setelahnya. Tindakan ini dilakukan jika pasien sudah tidak memiliki rencana untuk hamil lagi.
Pada histerektomi, mioma tidak akan kembali lagi karena wanita tersebut sudah tidak memiliki rahim. Yang patut diperhatikan adalah tindakan ini tergolong operasi besar, sehingga waktu penyembuhan pasien pun akan lebih lama dibanding operasi kecil.
Tindakan histerektomi juga dapat dilakukan pada pasien yang masih mempunyai rencana hamil, tetapi dengan pertimbangan massa mioma terlalu besar atau luas, sehingga tidak memungkinkan jika hanya mengangkat mioma saja.
Pilihan Mengatasi Mioma
Pada prinsipnya ada tiga cara mengatasi mioma uteri, yaitu mengangkat sel mioma, menghancurkan sel mioma, atau mengangkat rahim. Banyak orang berpendapat operasi merupakan jalan terbaik. Sebenarnya ada sejumlah pilihan terapi selain operasi.
1. Terapi obat
Penggunaan hormon bertujuan untuk mengurangi atau menghentikan pertumbuhan mioma.
2. Miolisis
Mengalirkan gelombang elektromagnetik untuk menghancurkan mioma dan jaringan pembuluh yang mendukung mioma.
3. Uterine Artery Embolization (UAE) atau embolisasi arteri uterus
Disebut sebagai cara terbaru dalam mengatasi mioma. Cara kerjanya, memberi suntikan untuk menghentikan suplai makanan ke jaringan mioma agar mengecil. Caranya dengan menyumbat pembuluh darah menggunakan selang kateter. Efek sampingnya bisa berupa demam atau rasa sakit beberapa jam setelah terapi.
4. MRI ultrasound ablation
Penghancuran mioma dengan gelombang suara panas hingga memusnahkan pula jaringan mioma di sekitarnya.
5. Ablasi endometri
Penghancuran mioma oleh laser, gelombang elektro, ataupun balon yang dimasukkan ke dalam rahim.
Catatan:
Tidak ada cara terbaik untuk mengatasi mioma uteri. Setiap jenis terapi memiliki keuntungan dan kerugian. Faktor-faktor yang memengaruhi jenis pengobatan antara lain:
• Gejala yang dialami oleh penderita.
• Berat atau ringan gejala yang dialami.
• Apakah penderita berencana untuk memiliki keturunan.
• Faktor usia penderita. Seberapa dekat penderita dengan masa menopause.
• Rasa percaya penderita terhadap jenis terapi yang dipilih.
Kenali Gejalanya
Gejala yang timbul bergantung dari lokasi dan besarnya mioma. Namun, yang paling sering ditemukan adalah:
1. Rasa nyeri saat menstruasi.
2. Perdarahan yang banyak dan tidak seperti biasanya saat menstruasi.
3. Menstruasi yang tidak beraturan.
4. Perut terasa sebah (penuh).
5. Meningkatnya frekuensi buang air kecil.
6. Perdarahan yang banyak di luar masa menstruasi.
7. Rasa nyeri di dalam rahim.
8. Pada organ sekitar tumbuhnya mioma terasa ditekan, seperti pada kandung kemih, ureter, rongga panggul, dan lainnya.
9. Gangguan buang air besar
10. Gangguan ginjal karena pembengkakan tangkai mioma.
11. Sulit hamil karena terjadi penekanan pada saluran indung telur.
12. Bagian bawah perut dekat rahim terasa kenyal.
Bisa Diperkecil
Karena besar mioma sangat dipengaruhi oleh hormon wanita, yaitu hormon estrogen, digunakan obat yang bersifat antiestrogen. Yang mutakhir adalah GnRH (Gonadotropin releasing hormone) agonis.
Fungsi obat ini hanya mengecilkan ukuran mioma dan mengurangi gejala yang menyertainya. Menyusutnya ukuran mioma menguntungkan pasien yang memutuskan menjalani operasi.
"Dengan demikian, mioma tidak terlalu sulit untuk diangkat," kata Dr. Andon Hestiantoro, Sp.OG, dari FKUI/ RSCM.
Meski demikian, turunnya kadar estrogen mempunyai efek samping, yaitu berkurangnya massa tulang dan berbagai gejala menopause. Karma efek samping ini, penggunaan GnRH agonis sebagai terapi biasanya hanya bersifat sementara.
Ketika terapi berakhir, hormon estrogen kembali normal diikuti dengan membesarnya kembali mioma. Kadang benjolan bisa lebih besar dari sebelumnya.
Kendala pada terapi dengan GnRH agonis ini adalah harganya yang tergolong mahal. Satu kali injeksi untuk jangka waktu satu bulan harganya Rp 1,5 juta.
Hindari Daging MerahPetunjuk mengenai cara-cara menurunkan risiko dan mendukung terapi mengatasi mioma uteri dapat diperoleh dari mana saja, yakni dari Internet ataupun buku-buku kesehatan wanita.
Cara-cara yang disarankan umumnya adalah mengubah pola makan. Pola makan yang dianjurkan antara lain dengan memperbanyak asupan kedelai. Ini karena kedelai mengandung protein yang dapat menghambat pertumbuhan mioma.
Cara lain adalah mengurangi asupan daging merah dan produk susu yang mengandung estrogen tinggi. Hal ini dikhawatirkan dapat memicu tumbuhnya mioma.
Pandangan tersebut didasari oleh sebuah studi oleh peneliti dari Italia yang menemukan hubungan antara konsumsi daging merah dengan mioma. Menurut hasil penelitian, wanita yang lebih banyak mengasup sayuran lebih kecil risikonya terkena mioma uteri. Tentu masih perlu diadakan penelitian lebih lanjut mengenai terapi alternatif ini.
Yang jelas, meskipun sedang menjalani cara alternatif ini, selalu konsultasikan perkembangan diri Anda dengan dokter. Diingatkan oleh Dr. Andon, mioma bukan kanker, tetapi bisa menjadi masalah serius jika diabaikan.
Karena itu, bergaya hidup sehat merupakan kebiasaan harian yang seharusnya dijalani siapa saja yang tak ingin dihinggapi penyakit.
26 Jul 2011
Mioma Uteri
Natural Alternative
Alasan mengapa seorang wanita mungkin memutuskan untuk memiliki histerektomi atau mungkin perlu untuk memiliki histerektomi dapat bervariasi. Untuk sebagian orang, mungkin histerektomi operasi yang diperlukan. Contoh-contoh adalah mereka yang harus indung telur mereka dihapus karena alasan kesehatan, seperti untuk menghilangkan fibroid tumor atau untuk mengobati endometriosis. Kepada orang lain, alasan bahwa beberapa wanita memutuskan untuk menjalani histerektomi berkisar pada dasar bahwa mereka diberitahu bahwa mereka tidak membutuhkan rahim mereka karena mereka tidak berencanapunya anak lagi. Sementara beberapa alasan ini dapat sah, sebenarnya ada alternatif lain untuk histerektomi dan perempuan harus dibuat sadar akan ini. ! br!! br! Alasan untuk Metode Alternatif! br!! br! Bagi perempuan yang menderita penyakit yang berhubungan rahim, rasanya satu-satunya solusi yang tersedia bagi mereka adalah menghilangkan organ di mana masalah ditemukan, yang merupakan rahim . Sebuah histerektomi dapat dilakukan beberapa cara, salah satu melalui perut, yang disebut abdominal histerektomi, dan yang lain dengan membuat sayatan yang dekat vagina, juga disebut histerektomi vagina. Walaupun banyak dari dokter mungkin menyarankan bahwa histerektomi adalah satu-satunya cara untuk pergi, sebenarnya ada metode lain yang dapat memberikan wanita jenis bantuan dari apa yang mereka alami dan tanpa harus menderita konsekuensi yang datang dengan operasi seperti ini. Beberapa efek samping yang dapat terjadi ketika seorang wanita mempunyai histerektomi adalah sebagai berikut:
Wpertanda yang menjalani prosedur ini lebih mungkin mengalami menopause pada usia yang lebih muda, kadang-kadang sedini empat tahun ke depan seharusnya mereka usia menopause.! br! ! br! Wanita yang memiliki histerektomi sering memiliki kesempatan yang lebih tinggi memiliki penyakit jantung koroner selama menopause tahun.! br! ! br! Wanita yang memiliki histerektomi mungkin menderita penyakit tersebut seperti prolaps organ panggul, sendi kekeringan, sakit punggung bawah yang kronis, dan bahkan kehilangan atau berkurang seks dmemotong serta naluri keibuan.! br!! br! Lainnya Tersedia Metode! br!! br! Jika histerektomi harus dipertimbangkan sebagai pilihan terakhir untuk masalah uterus tertentu, apa metode lain harus seorang wanita dipertimbangkan? Berikut adalah beberapa dari metode alternatif yang seorang wanita dapat mempertimbangkan:
Jika seorang wanita menderita pertumbuhan fibroid, salah satu alternatif alami ia gunakan untuk penyembuhan dirinya sendiri adalah phytotherapy. Karena pertumbuhan ini adalah hasil dari ketidakseimbangan hormon, memulihkankeseimbangan hormon yang anal adalah solusi alami untuk masalah seperti itu. ! br!! br! Solusi lain yang dapat digunakan bersama dengan phytotherapy ketika merawat pertumbuhan fibroid adalah untuk menurunkan berat badan. Telah terbukti bahwa kelebihan lemak tubuh dapat menyebabkan ketidakseimbangan hormon, sehingga kehilangan beberapa berat dapat membantu seorang wanita memperlakukan pertumbuhan fibroid.
Ketika Anda berbicara tentang metode alami, salah satu metode Anda dapat mempertimbangkan termasuk pengurangan stres melalui berbagai teknik-teknik seperti meditasi, sebuahcupuncture, atau bahkan akupresur.! br!! br! Mengubah apa yang dimakan juga dapat membantu meringankan penderitaan yang membawa endometriosis dan fibroid. Meminimalkan asupan daging merah Anda dapat membantu Anda mengurangi rasa sakit yang datang dengan jenis masalah rahim.
KISTA/FIBROID HARUSKAH DI OPERASI?
Uterine fibroid merupakan tumor jinak yang terdapat pada rahim. Uterine fibroid merupakan jenis tumor yang paling banyak ditemukan pada organ reproduksi wanita. Sekitar 20 – 25% wanita di dunia menderita Uterine Fibroide dan 40% dari penderita berusia 50 tahun ke atas.
Pada awalnya, penanganan kasus Uterine Fibroid melalui dua metode yaitu metode hormon dan metode operasi. Kedua metode ini tidak memberikan hasil yang memuaskan. Metode hormon dilakukan dengan memberikan hormon anti-estrogen seperti progesteron. Pemberian hormon ini tidak dapat dilakukan terus menerus karena dapat mengakibatkan osteoporosis dan sindrom manopouse dini. Metode operasi sendiri tidak jarang mengharuskan pengankatan rahim dan sering kali melukai organ abdomen. Pelaksanaan operasi juga tidak dapat memberi jaminan bahwa tumor tidak akan tumbuh kembali setelah tumor diangkat. Selain itu pelaksanaan operasi juga memiliki resiko kegagalan, pendaarahan yang membahayakan pasien, dan memerlukan waktu pemulihan yang lama (6 minggu waktu istirahat).
Penemuan metode embolisasi dan penerapannya pada kasus tumor sejak tahun 1990 memberikan harapan pada pasien Uterine Fibroid. Metode embolisasi dilakukan dengan memasukkan material ke dalam pembuluh darah untuk menyumbat aliran arteri. Melalui metode embolisasi ini diharapkan dapat menghentikan asupan makanan ke sel tumor. Saat ini material yang paling tepat digunakan untuk proses embolisasi Uterine Fibroid adalah PVA (Poly Vinyl Alcohol). PVA dipilih karena murah, biokompatibel, tidak beracun dan aman untuk proses embolisasi.
PVA akan diinjeksikan dalam bentuk microsphere PVA. Disebut microsphere karena PVA tersuspensi dalam cairan pembawa, dalam cairan ini partikel PVA akan memiliki bentuk sphare (elips) jika diamati dengan mikroskop dengan perbesaran 1000 kali. Bentuk ini hanya dapat terjadi jika PVA yang digunakan memiliki bentuk regular. Tantangan dalam pengembangna PVA microsphere ini terletak pada pengadaan suspensi PVA yang tidak hanya memiliki bentuk sphare atau elips namun juga memiliki ukuran partikel seragam, tidak mengalami aglomerasi akibat kontak antar permukaan partikel PVA, dan memiliki ukuran diameter yang mudah dikalibrasi. Ukuran PVA yang paling sesuai untuk embolisasi Uterine Fibroid ada pada rentang 300 – 500 µm atau 500 – 700 µm. Penggunaan partikel dengan ukuran terlalu kecil dapat mengakibatkan penyumbatan di pembuluh nontarget seperti collateral uretro ovarian.